Kolaborasi Guru Menghasilkan Prestasi Tinggi

Agustus 15, 2009

Dedi-Wijaya ketika Launching Buku PTK di Pascasarjana UNJ
Dedi-Wijaya ketika Launching Buku PTK di Pascasarjana UNJ

Saya tak pernah menduga kalau hasil kolaborasi saya dengan pak Dedi Dwitagama menghasilkan sebuah buku yang bermutu bagi para guru. Awalnya hanya sekedar berbagi informasi antar sesama blogger di dunia maya, dan tiba-tiba kami merasakan hal yang sama bahwa banyak guru yang belum memahami penelitian tindakan kelas (PTK).

Waktu itu, pak Dedi mengatakan kalau di blog pribadinya banyak teman-teman guru yang sering mampir dalam postingan PTK dan bertanya tentang PTK. Itulah awal yang membuat blog pak Dedi digemari oleh para guru di Indonesia. Bahkan dari para guru yang bertugas di kedutaan besar di luar negeri, seperti Saudi Arabia, Malaysia, Australia, dan lain-lain.

Gayung pun bersambut, pada waktu itu saya pun mengalami hal yang sama. Belum memahami apa itu PTK. Saya baru denger istilah PTK ketika saya mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Pendidikan Luar Biasa di Yogyakarta tahun 2005. Saya merasakan pada saat itu betapa bodohnya saya karena belum mengetahui kalau PTK itu adalah sesuatu yang mudah dilakukan oleh guru karena guru tak perlu meninggalkan kelasnya dalam melakukan penelitian. Semua hal itu dimulai dari PERENCANAAN pembelajaran yang matang, TINDAKAN perbaikan pembelajaran yang menantang, hasil PENGAMATAN yang tercatat dengan cemerlang, dan REFLEKSI diri dengan melakukan kolaborasi dengan teman sejawat yang akan menghasilkan prestasi yang gemilang. Hal itu telah saya buktikan sendiri dalam melakukan PTK dengan lolosnya karya tulis ilmiah saya, dan terpilih  menjadi salah satu finalis lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran (LKGDP) di tingkat nasional tahun 2008 di Jakarta.

Hasil perenungan yang sangat mendalam tentang PTK, membuat kami berdua, saya dan pak Dedi, akhirnya menyatukan pikiran kami untuk saling berkolaborasi membuat buku tentang mengenal PTK lengkap dengan contoh-contohnya, dari tingkat TK, SD/MI, SMP, SMA, dan SMK. Juga dilampiri dengan contoh dari teman-teman guru yang telah berhasil mendapatkan juara pertama LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) di tingkat Nasional.

Pada akhir tahun 2007 buku PTK itu sudah jadi, tetapi tak satu pun penerbit yang mau menerbitkannya, karena mereka menilai kami bukanlah dosen perguruan tinggi. Kami dianggap tak pantas membuat buku tentang penelitian. Waktu itu, saya dan pak Dedi tak berputus asa. Kami mengunjungi Prof. Dr. Conny. R. Semiawan, Guru besar UNJ dan pakar PTK. Melalui beliaulah kami diperkenalkan dengan penerbit Indeks, dan beliau bersedia untuk mengoreksi isi buku PTK kami sekaligus memberikan kata sambutan dalam buku kami tersebut.

Betapa bahagianya kami pada saat itu, seperti mendapatkan semangat baru, kami pun mulai mempermak kembali isi buku, lengkap dengan karikatur, dan gambar-gambar yang mendukung. Pak Agus Sampurno, guru SD Global Jaya membantu kami membuat gambar karikaturnya, sehingga buku PTK ini terkesan ringan dan enak di baca, serta berbeda dengan buku-buku penelitian pada umumnya yang text minded (semuanya serba teks). Biasanya kalau sudah isinya teks melulu, para guru akan malas membacanya.

Tak berapa lama, datanglah ke tempat kami pak Wiranto, bagian marketing PT. Indeks. Saya katakan pada beliau bahwa saya memiliki naskah yang masih di ketik dengan word dan belum di layout. Beliau cuma tersenyum pada saat itu dan mengatakan pada kami bahwa sudah ada mbak Novi, bagian layout dan editor yang akan memperindah isi buku PTK bapak. Senang sekali saya mendengarnya dan saya pun percaya penuh pada indeks, penerbit buku perguruan tinggi yang sudah terkenal di seluruh Indonesia.

Tidak sampai sebulan, jadilah buku itu. Lalu diperbanyak dengan jumlah terbatas dulu. Dengan desain cover yang dibuat oleh tim dari indeks. Bulan Januari 2009 buku ini di jual dan disebar ke seluruh Indonesia, dan baru dua bulan berjalan, seribu buah buku PTK telah habis terjual. Bahkan penjualannya telah melampaui target dari yang ditetapkan oleh PT indeks. Kami pun menjadi sering diundang oleh teman-teman guru di daerah untuk menjadi pembicara PTK. Kami pun serasa menjadi seperti selebritis. Pergi dari satu kota ke kota lainnya dan menanda tangani isi cover buku dari para guru yang membeli buku kami. Karena buku kami laris, dan termasuk dalam jajaran  buku best seller, maka kami pun kini semakin sering diminta untuk mengisi materi tentang PTK dari satu kota ke kota lainnya di berbagai propinsi di Indonesia.

Kini buku PTK yang kami susun dari hasil kolaborasi guru telah memasuki cetakan kelima. Sebuah prestasi dari hasil kolaborasi guru. Betapa indah dan nikmatnya bila para guru saling bekerjasama. Bekerjasama dalam meningkatkan kualitas pembelajarannya di kelas. Saya dan pak Dedi kini merasakan betapa enaknya berkeliling Indonesia dan menikmati benar wisata kuliner dengan potensi daerah yang beragam. Kami bersyukur kepada Allah, Tuhan pemilik bumi, berkat izin-Nya buku PTK yang kami susun diterima dengan baik oleh teman-teman guru, dan banyak guru yang kini tercerahkan dan telah bisa melakukan PTK di sekolahnya sendiri. Bahkan sudah banyak loh yang naik pangkat PNS setelah melakukan PTK secara benar sesuai dengan metodologi penelitian.

Membuat dan menyusun buku PTK telah mengantarkan kami berkeliling Indonesia berbagi ilmu PTK. Kami pun sadar, dan terus menerus memperbaiki isi buku kami yang kini telah menjadi buku best seller bagi para guru. Saya lihat di toko buku gramedia Jakarta, begitu banyak penulis yang berstatus dosen membuat buku tentang PTK, dan sangat sedikit guru yang membuat buku tentang PTK. Saya pun sempat bertanya kepada penjaga toko, ternyata buku saya dan pak Dedi banyak yang membeli, Alhamdulillah.

Suatu ketika pak Dedi mendapat SMS dari Pak Wardiman (Mantan Mendiknas) yang berada di toko buku Gramedia, beliau menuliskan bahwa dari sekian banyak buku tentang PTK, buku kamilah yang menarik dan lebih komunikatif. Bukan itu saja, pakar pendidikan seperti Prof. Dr. Arif Rahman turut juga memberikan kata sambutan dalam buku PTK ini. Juga ketua Jurusan Teknologi Pendidikan UNJ, Dra. Ibu Dewi S Prawiradilaga, M.Sc turut pula memberikan dukungannya. Kami sangat bahagia dengan berbagai dukungan ini. Setidaknya buku kami semakin kredibel di mata para akademisi.

Sambutan pun semakin banyak berdatangan, mulai dari Rektor UNJ, Prof. Dr. Bedjo Sujanto, Mantan Rektor UT, Prof. Dr. M. Atwi Suparman, M.Sc, dan juga Dirjen PMPTK, Dr. Baedhowi. Mereka telah memberikan kata sambutan dalam bentuk tertulis, dan memberikan selamat kepada kami atas keberhasilan menulis buku PTK ini, sekaligus memberi arahan PTK yang benar dan dalam berbagi ilmu tentang PTK yang sekarang ini tengah menjadi buah bibir di kalangan para guru. Membuat para guru menjadi tidak takut untuk melakukan PTK. Tulisan saya tentang kenapa guru takut melakukan PTK telah dimuat oleh Tabloid Gocara pada tahun 2008, nomor terbitnya saya lupa. Mungkin bisa ditanyakan ke Mas Ray Kurniawan. Pimpinan Redaksi Tabloid Gocara. Berkat Tabloid Gocara pula, setiap kami menyelenggarakan seminar nasional PTK di kampus-kampus dan tampil menjadi pembicara, Tabloid Gocara selalu hadir mendukung kami dengan menjadi media partner.

Saya dan pak dedi mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam membuat buku PTK kami menjadi berarti untuk para guru. Juga ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mengundang kami untuk menjadi pembicara PTK. Mohon maaf kalau ada kekurangan di sana-sini selama kami menjadi pembicara PTK. Namun kami yakin, bapak dan ibu guru pasti tidak puas karena pelaksanaannya cuma satu hari. Idealnya, diklat PTK dilaksanakan selama dua hari dengan langsung praktek membuat proposal PTK.

Ada sebuah pembelajaran yang sangat berharga kami dapatkan dari proses pembuatan buku PTK, bahwa KOLABORASI guru akan menghasilkan PRESTASI Tinggi.  Dalam PTK, kolaborasi adalah salah satu unsur penting bila ingin PTK kita berhasil. Oleh karena itu, sudah saatnya para guru saling bekerjasama, bahu membahu, memperbaiki kinerjanya sebagai guru dan turut  memperkaya khasanah ilmu pendidikan di Indonesia.

Para pembaca tabloid Gocara yang budiman, Saya adalah seorang guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang berkuliah S2 di jurusan teknologi pendidikan UNJ, dan Pak Dedi Dwitagama adalah seorang guru Matematika yang berkuliah di S3 jurusan Manajemen Pendidikan UNJ. Kolaborasi dari disiplin ilmu yang berbeda justru membuat kami merasakan betapa pentingnya kolaborasi antar disiplin ilmu.

Majulah terus wahai teman-teman guru. Ciptakan terus pembelajaran yang bermutu melalui PTK yang dilakukan sendiri oleh para guru. Kalau bukan guru yang melakukan PTK, lalu siapa lagi?

Salam Blogger persahabatan

Wijaya Kusumah (Omjay)

Buku Penelitian Tindakan kelas
Buku Penelitian Tindakan kelas

MOS Kreatif, Idaman Guru dan Siswa

Juli 19, 2009
Saya terhenyak dan bersedih hati membaca berita di milis klub guru Indonesia yang tertulis seperti ini:

Terkait meninggalnya peserta MOS SMUN 16 Surabaya, muncul pernyataan yang mengusulkan agar Kepala Dinas Surabaya, Sahudi agar mundur dari jabatannya. Desakan tersebut muncul dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Surabaya yang dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya. Seperti yang disampaikan anggota Komisi Pemerintahan asal Partai Keadilan Sejahtera, Ahmad Suyanto.

Kepada wartawan, Ahmad Suyanto dengan tegas mendesak agar Sahudi segera dilengserkan dari jabatanya kerena tidak serius dalam mengemban jabatan sebagai kepala dinas. “Sahudi harus mundur dari jabatannya, itu karena kelalaiannya sebagai kepala dinas pendidikan,” ujar Suyanto saat ditemui di kantor DPRD Surabaya, Jumat (17/07/2009) . Menurut Suyanto, pengawasan yang dilakukan Dinas Pendidikan Kota hanya sekedar formalitas. Sebelum penyelenggaraan MOS, Dinas Pendidikan memang telah menyebarkan edaran ke pihak sekolah untuk tidak melakukan kekerasan, baik fisik maupun psikis, pada siswa. Namun, edaran ini tidak disertai struktur dan mekanisme pengawasan yang jelas hingga ke tingkat sekolah. Lebih lanjut Suyanto menjelaskan, alasan desakan mundur Sahudi adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. “Ini semacam reward dan punishmen, jika berprestasi patut diberikan penghargaan, dan sebaliknya jika gagal harus ada hukuman,” tegas Suyanto. Suyanto menilai Dinas Pendidikan Surabaya telah membuat beberapa kekacauan dengan tidak profesionalnya kinerja Diknas, mulai penerimaan siswa baru secara online, jebloknya prestasi pendidikan, penyampaian dana bantuan operasional pendidikan daerah dan kasus tidak terserapnya dana Rp 15 miliar untuk anak tak sekolah. Bopeng-bopeng wajah Dinas Pendidikan Surabaya itulah yang menimbulkan DPRD Surabaya akhirnya mendesak Sahudi untuk mundur dari jabatannya.

Membaca berita di milis klub guru di atas, hati dan pikiran saya bekerja, haruskah kepala dinas pendidikan bertanggungjawab terhadap MOS dan bukankah ini tanggungjawab penuh kepala sekolah?

MOS yang merupakan kepanjangan dari Masa Orientasi Siswa seharusnya membuat para siswa baru menjadi senang dan bangga memasuki sekolah barunya. Megapa mereka senang dan bangga? Karena di sekolah barunya mereka menemukan guru dan kakak senior yang menjadi idaman mereka. Memberikan mereka petunjuk bagaimana menjadi siswa yang berprestasi.

Di sekolah kami, Labschool Jakarta, MOS menjadi kegiatan favorit yang sangat menyenangkan siswa. Memang awalnya terkesan pemaksaan tetapi ketika komunikasi itu dibuka oleh pihak sekolah kepada orang tua siswa, orang tua siswa pun tak khawatir karena ada jaminan dari pihak sekolah bahwa acara yang dilaksanakan ini adalah untuk mendidik kemandirian siswa. Sesuatu yang awalnya pemaksaan menjadi kebiasaan karena dilakukan dari motivasi internal yang tinggi.

Contohnya para siswa diminta hadir ke sekolah lebih pagi dari jadwal sekolah untuk berolah raga pagi terlebih dahulu, melaksanakan apel pagi, dan mendengarkan materi school culture dari kakak kelas dan guru. Hal ini dilakukan agar siswa baru lebih mengenal sekolahnya, dengan wawasan wiyata mandala yang terkenal itu. Ada lagi pemberian motivasi dengan mengundang motivator dari luar dengan materi bagaimana bagaimana menjadi siswa berprestasi di sekolah. Semua acara dibuat secara kreatif sehingga siswa baru senang melakukannya. Kalaupun ada yang kurang enjoy, hal itu bukan karena acaranya yang tidak kreatif tetapi, keadaan fisik siswa yang kurang baik pada saat MOS membuat siswa baru tersebut. kurang bisa menikmati acara dengan baik. Biasanya pihak panitia memberi tanda untuk siswa yang sakit. Oleh karena itu, kami selalu memantau siswa yang kondisinya kurang baik agar tetap di ruang kesehatan dan mempersilahkan mereka mengikuti acara bila mereka merasa lebih fit setelah diperiksa oleh tim kesehatan yang dibentuk oleh anak-anak sendiri dengan pengawasan dari guru dan dokter sekolah.

Sebenarnya kalau hal ini dilakukan oleh panitia MOS SMAN 16 Surabaya, saya yakin tak ada siswa yang sampai kehilangan nyawa, dan tak perlu sampai ada protes yang menginginkan kepala sekolah atau kepala dinas setempat diganti. Bagi saya yang berprofesi sebgagai pendidik dan telah beberapa kali menjadi ketua MOS di sekolah, guru dan siswa yang bernaung di organisasi OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) harus kreatif dalam membuat format acara MOS yang kreatif dan menyenangkan siswa baru. Anda dapat melihat laporan kegiatan mos di sekolah saya di blog pribadi saya.

Dalam MOS ada hal yang penting yang harus diajarkan pada siswa baru. Selain kemandirian, ada pula pelajaran kebersamaan, yang harus ditekankan kepada mereka agar memiliki jiwa sosial yang  tinggi. Tidak egois dan harus menyadari bahwa hidup harus saling berbagi. Nilai-nilai yang sifatnya religius pun harus dilakukan seperti sholat berjamaah, dan tadarus atau kebaktian bagi siswa nasrani. Unsur kreativitas tak lupa pula diberikan agar muncul ide-ide kreatif dari para siswa baru.

Di sekolah kami, biasanya kegiatan MOS ditutup dengan kegiatan pentas seni yang menampilkan kebolehan para siswa baru di bidang seni, dan besoknya pihak sekolah menyelenggarakan apa yang kami sebut “EXPO EKSKUL”. Kegiatan yang menggiring siswa untuk menyalurkan minat dan bakatnya masing-masing.

Oleh karena, Bila Mos yang dilakukan oleh sekolah kreatif, maka siswa baru akan merasakan kenyamanan berada di sekolahnya yang baru. Bertemu guru idola, dan mendapatkan kakak senior yang baik hati. Tak ada kecemasan berada di sekolah barunya, dan mereka akan dengan bangga mengatakan, :”INILAH SEKOLAH BARUKU YANG AKU BANGGAKAN”.

Salam Blogger Kompasiana

Omjay

Budaya Labschool

Mei 4, 2008

MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH

YANG TETAP EKSIS

(Sebuah Upaya untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan)

MAKALAH YANG DITULIS UNTUK MENGIKUTI

KONFERENSI GURU INDONESIA (KGI)

”Better Community Through Better

 Education”

Oleh :

WIJAYA KUSUMAH

Oktober 2007

SMP LABSCHOOL JAKARTA

Jl. Pemuda Komp. UNJ Rawamangun Jak-Tim 13220 Telp/Fax. 4755542

Website : http://www.labschool-unj.sch.id

 

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, karena berkat dan kekuatan-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH YANG TETAP EKSIS.

Penyusunan makalah ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Melalui Konferensi Guru Indonesia (KGI) 2007 dengan tema Better Community Through Better Education”, penulis merasa terpanggil untuk membuat makalah tentang pengalaman penulis yang telah mengajar di sekolah hampir 15 tahun di SMP Labschool Jakarta.

Dengan terselesaikannya penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. H. Ali Chudori, S.Pd.,MM selaku Kepala SMP Labschool Jakarta, yang telah memberikan petunjuk dan pengarahan demi terwujudnya penulisan ini.

2. Istri (Siti Rokayah) dan kedua anak (Intan dan Berlian) yang banyak memberikan semangat dan dorongan.

3. Segenap teman-teman Guru di lingkungan sekolah dan para siswa kelas VIII yang telah banyak membantu dalam penyelesaian makalah ini.

4. Pengurus POMG dan segenap jajarannya yang telah banyak berperan serta dalam kegiatan sekolah, sehingga menginspirasi penulis menghasilkan karya tulis ini.

 

Penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan dalam penyusunan makalah selanjutnya.

Akhirnya penulis berharap semoga tulisan yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya, para pendidik di pelosok nusantara yang penuh dedikasi mengajar, dan khususnya bagi penulis sendiri.

Jakarta, 5 Oktober 2007

Penulis,

Wijaya Kusumah, S.Pd

 

 

ABSTRAK

Menciptakan Budaya Sekolah Yang Tetap Eksis (Sebuah Upaya Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan), Juli 2007.

Salah satu keunikan dan keunggulan SMP Labschool Jakarta yang tidak dimiliki oleh sekolah lainnya adalah budaya sekolah (school culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur menjadi three in one baik siswa, guru, dan orang tua yang bekerja sama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, menjadikan sekolah Labschool unggul dan favorit di masyarakat.

SMP Labschool Jakarta sebagai sekolah favorit di masyarakat harus melaksanakan aktivitasnya secara profesional dan bertanggung jawab. Profesional memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan tugas pokok menyelenggarakan proses belajar mengajar dan manajemen yang baik. Bertanggung jawab memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan pendidikan secara akuntabilitas kinerja/ dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan pemerintah.

Karena budaya sekolah Labschool itulah yang tertanam di hati para siswa. Hampir bisa dikatakan sekolah kami bebas dari narkoba, rokok, minuman keras, tawuran antar pelajar, dan ’penyakit’ kenakalan pelajar lainnya. Siswa terbaik akan terukir namanya dalam batu prasasti yang selalu diperebutkan sampai dengan angkatan ke-15 saat ini. Alumni SMP Labschool Jakarta tersebar ke sekolah-sekolah SMA favorit ’papan atas’ dan menjadi ’leader’ di SMA-nya masing-masing.

Budaya sekolah terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan, seperti dua sisi mata uang logam yang tak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dalam bidang keilmuan, keolahragaan, dan kesenian membuat siswa dapat menyalurkan minat dan bakatnya masing-masing.

Keunggulan suatu sekolah tidak ditentukan oleh besar kecilnya dana yang tersedia, tetapi lebih pada komitmen dan dedikasi para guru juga peran serta orang tua dalam memajukan sekolah. Dapat menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis sebagai upaya memajukan mutu pendidikan yang berkualitas di Indonesia dengan terus membangun kredibilitas dan akuntabilitas kinerja.

 


 

I. PENDAHULUAN

Tahun ajaran baru belum lagi mulai, tetapi sekolah kami sudah membuka pendaftaran siswa baru. Setiap kali dibuka, respon masyarakat terhadap sekolah kami kian meningkat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah orang tua yang mendaftarkan putra-putrinya untuk mengikuti tes ujian masuk yang setiap tahunnya mengalami grafik kenaikan. Respon yang begitu besar itu membuat kami harus bersyukur dan merenung, karena sebagai sekolah swasta umum kami harus bersaing dengan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya yang jumlahnya sudah puluhan.

Dari sekian banyak sekolah yang ada, sekolah kami, SMP Labschool Jakarta menjadi pilihan favorit dari para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. Mengapa sekolah kami yang dipilih dan tidak yang lain? Apa nilai unggulnya? Dan mengapa mereka begitu antusias, padahal untuk bisa bersekolah di tempat kami membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan sampai puluhan juta rupiah? Keunggulan apa yang dimiliki oleh sekolah kami? Prestasi dalam Ujian Nasional? Tidak juga, walaupun kami sempat peringkat kedua tingkat nasional tahun 2003 untuk kelas Akselerasi. Apa sih yang unggul dan menarik? Apakah sistem pendidikannya? Ataukah proses pembelajarannya? Lalu ada apa dengan Labschool?

Dari hasil wawancara dengan para orang tua dan juga para siswa, ternyata jawabannya selain memiliki budaya organisasi dan budaya kerja, SMP labschool Jakarta memiliki budaya sekolah yang tetap eksis. Mempunyai misi dan visi sekolah yang bermartabat dengan didukung pendidik dan tenaga kependidikan yang berkualitas dalam mempersiapkan calon pemimpin yang bertakwa, berintegritas tinggi, mempunyai daya juang yang kuat, mempunyai kepribadian yang utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri serta mempunyai kemampuan intektual yang tinggi.

Salah satu keunikan dan keunggulan Labschool yang tidak dimiliki oleh sekolah lainnya adalah budaya sekolah (school culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur (three in one) baik siswa, guru, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, menjadikan sekolah Labschool unggul dan favorit di masyarakat. Keberadaannya sudah menjadi ’buah bibir’. Para orang tua akan berusaha menyekolahkan anaknya ke tempat kami. Namun, antusias yang begitu besar itu tidak dapat dipenuhi karena terbatasnya ruang kelas dan tempat yang ada di sekolah.

II. PEMBAHASAN

Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.

SMP Labschool Jakarta mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian visi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan iptek dan berlandaskan imtak.

Budaya sekolah yang telah diciptakan dan tetap eksis di SMP Labschool Jakarta selama 15 tahun berdiri adalah : budaya salam, dimana setiap kali bertemu (guru, siswa dan orang tua) saling mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan sapaan sopan dan senyuman menawan; upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap minggu kedua dan keempat; Penasehat akademis atau pertemuan wali kelas dengan para siswanya setiap Senin pagi untuk berbagi informasi; Tadarus dan kebaktian setiap Senin dan Kamis pagi sebelum pelajaran dimulai; Seragam sekolah yang berbeda dengan sekolah lain; Sholat Dzuhur berjamaah di masjid sekolah pada saat jam istirahat; Olah raga Jumat pagi dengan mengelilingi kampus UNJ; Lima hari belajar (Senin-Jumat) dari pukul 06.55 s.d. 14.30; Majalah sekolah yang dibuat oleh siswa untuk melatih bakat jurnalistiknya; Dialog interaktif dengan para pakar di bidangnya, mulai dari masalah seks sampai teknologi terbaru; Lintas juang untuk mendidik siswa menjadi calon pengurus OSIS; Studi Kepemimpinan Siswa untuk melatih kepemimpinan siswa menjalankan organisasi; Studi Amaliah Ramadhan mendidik siswa dalam kegiatan pesantren ramadhan; Pelepasan siswa yaitu melepas siswa kelas sembilan yang telah lulus dari sekolah; Buku tahunan adalah buku yang merekam kegiatan siswa dari mulai masuk sampai lulus sekolah; POMG (Persatuan Orang tua Murid dan Guru) adalah kegiatan orang tua siswa yang menunjang kegiatan sekolah dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan; budaya bersih adalah kegiatan kebersihan sekolah dan kebersihan diri sendiri; Kegiatan praktek ibadah adalah kegiatan keagamaan siswa yang dinilai oleh guru agama masing-masing; PHBI dan Nasional adalah kegiatan hari besar keagamaan dan nasional; melakukan Doa sebelum/sesudah belajar dipimpin oleh wali kelas atau guru pengajar jam pertama dan terakhir; Labs channel yaitu kegiatan siswa di jam istirahat dengan menjadi penyiar radio sekolah; Labs TV yaitu kegiatan siswa dalam meliput beberapa kegiatan sekolah dan menayangkannya dalam televisi sekolah; Budaya disiplin dimana siswa tidak diperkenankan masuk kelas pada jam pertama, bila terlambat dan atau melakukan pelanggaran tata tertib sekolah; budaya kerja keras, cerdas dan ikhlas yaitu siswa dilatih menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat, tepat waktu, dan berharap mendapatkan ridho hanya dari Allah; budaya Kreatif yaitu melatih siswa menciptakan inovasi sesuai bakat dan minatnya; Mandiri & bertanggung jawab yaitu melatih siswa untuk bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain dan bertanggung jawab penuh terhadap tugas yang diberikan guru; Pentas Seni (Pensi) melatih siswa melaksanakan kegiatan bernuansa seni baik kesenian tradisonal maupun kesenian modern atau yang sedang ’ngetren’ saat ini; Kunjungan museum yaitu mengenalkan kepada siswa tentang warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan; Kunjungan Industri yaitu mengenalkan siswa tentang kegiatan-kegiatan yang ada di industri atau pabrik yang berkaitan dengan mata pelajaran sains dan ekonomi; SAKSI (Studi dan Apesiasi Kepemimpinan Siswa Indonesia) yaitu kegiatan kesiswaan yang mengundang sekolah lain di Indonesia untuk bersama-sama berlatih kepemimpinan dengan nara sumber dari KOSTRAD TNI AD di Pusdiksarkostrad Sangga Buana Karawang Jawa Barat; Career Day yaitu kegiatan yang mengarahkan siswa untuk menggapai cita-citanya dengan mengundang beberapa tokoh yang sukses dalam meniti karirnya; Ekstrakurikuler adalah kegiatan non akademik yang memberi wadah/kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing (ada sekitar 34 jenis ekskul yang terangkum dalam buku panduan ekskul); Parents Day yaitu kegiatan orang tua siswa di sekolah yang diberi kesempatan mengajar selama satu hari di kelasnya masing-masing, dan Sport and Art yaitu kegiatan seni dan olahraga antar kelas untuk unjuk gigi di hari Jumat.

Dengan motto Iman, Ilmu, Amal, Kreatif dan Berprestasi SMP Labschool Jakarta menjadi sekolah yang unggul dan berkualitas. Banyaknya tamu yang datang berkunjung dari lembaga pendidikan di berbagai daerah di Indonesia ke sekolah kami ( ± 4 lembaga) untuk melakukan studi banding setiap bulannya, membuat kami tersanjung dan bersyukur pada Allah. Kami pun banyak belajar dari mereka.

SMP Labschool Jakarta sebagai sekolah favorit di masyarakat harus melaksanakan aktifitasnya secara profesional dan bertanggungjawab. Profesional memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan tugas pokok menyelenggarakan proses belajar mengajar dan manajemen yang baik. Bertanggungjawab memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan pendidikan secara akuntabilitas kinerja/ dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan pemerintah.

Tuntutan sekolah yang profesional membutuhkan pengelolaan yang tepat melalui pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sebab dengan MBS, lembaga dapat menginventarisir kekuatan-kekuatan dan kebutuhan-kebutuhannya, kelemahan, peluang, hambatan, dan tantangan yang mungkin ada. Pendekatan ini sering disebut dengan analisa SWOT. Dari analisis tersebut akan tampak perbedaan karakteristik sebuah sekolah dengan sekolah lainnya. Karenanya, dalam konteks penerapan MBS, Sergiovanni (2005) menyarankan agar para pengambil kebijakan, para penilik, dan kepala sekolah menggunakan pendekatan budaya sekolah atau school culture approach. Alasannya: Pertama, pendekatan budaya lebih menitikberatkan faktor manusia di atas faktor-faktor lainnya. Peran manusia amat sentral dalam suatu proses perubahan berencana. Sesuai dengan pepatah man behind the gun, manusia adalah faktor yang menentukan keberhasilan perubahan, bukan struktur atau peraturan legal. Kedua, pendekatan budaya menekankan pentingnya peran nilai dan keyakinan dalam diri manusia. Aspek ini merupakan elemen yang sangat berpengaruh dalam membentuk sikap dan perilaku. Karenanya, pendekatan budaya menomorsatukan transformasi nilai dan keyakinan terlebih dahulu sebelum perubahan yang bersifat legal-formal. Ketiga, pendekatan budaya memberikan penghormatan dan penerimaan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Sikap menerima dan saling hormat menghormati akan menciptakan rasa saling percaya dan kebersamaan di antara anggota organisasi. Rasa kebersamaan akan memunculkan kerja sama, dan kerja sama akan mewujudkan sikap profesionalisme yang membawa perubahan sehingga mengubah nilai-nilai lama yang menghambat dengan nilai baru yang mendukung MBS.

Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dengan kurikulum baru KTSP 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) membuat guru lebih aktif, kreatif, kompetitif, inspiratif, inisiatif, independen dan inovatif dalam menemukan dan mengembangkan kurikulum baru. Sekolah diberi kebebasan dalam membuat program kerja oleh pemerintah melalui Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang merupakan salah satu dari delapan standar nasional pendidikan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permen) No.23 Tahun 2006.

Labschool telah memiliki sistem pengembangan budaya sekolah yang terintegrasi dan terimplementasi dalam proses pembelajaran. Sekolah juga telah melakukan inovasi-inovasi kegiatan budaya sekolah dan terinventarisasikannya budaya sekolah Labschool yang sesuai dengan nilai-nilai lokal, nasional, dan internasional. Semuanya itu telah menyatu ke dalam kegiatan akademik dan kegiatan kesiswaan melalui kegiatan yang bersifat intrakurikuler dan ekstrakurikuler sehingga nantinya SMP Labschool Jakarta akan menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan membuka kelas billingual yang telah berjalan beberapa tahun belakangan ini.

Pengelola sekolah membangun sebuah sistem yang di dalamnya mengutamakan kerjasama atau team work. Kesuksesan dibangun atas dasar kebersamaan dan bukan kerja satu orang kepala sekolah atau one man show. Kepala sekolah setiap periode akan berganti, tetapi sistem akan terus berjalan mendampingi siapapun pemimpinnya. Melalui budaya organisasi, Labschool terus menata kembali status kelembagaan, struktur organisasi, komitmen civitas akademika, aturan kepegawaian dan kesejahteraan, merencanakan penggunaan teknologi dengan menempatkan ’Access Point’ di tiap sudut sekolah, sistem pemeliharaan fasilitas, pengembangan program dan layanan pendidikan, dan sumber keuangan sekolah.

Setiap sekolah harus dapat menciptakan budaya sekolahnya sendiri sebagai identitas diri, dan juga sebagai rasa kebanggaan akan sekolahnya. Kegiatan tidak hanya terfokus pada intrakurikuler, tetapi juga ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan otak kiri dan kanan secara seimbang sehingga melahirkan kreativitas, bakat dan minat siswa. Selain itu, dalam menciptakan budaya sekolah yang kokoh, kita hendaknya juga berpedoman pada misi dan visi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan otak saja, tetapi juga watak siswa yang selalu disampaikan oleh tokoh pendidikan Indonesia Bapak Prof. Dr. H. Arief Rachman, serta mengacu pada 4 tingkatan kecerdasan yaitu : kecerdasan intektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan rohani (SQ) dan kecerdasan sosial.

Budaya sekolah akan subur dan tetap eksis bila orang tua siswa dilibatkan dalam menunjang kegiatan kesiswaan. Melalui kegiatan Indonesian Parenting Forum, orang tua diberi kesempatan melakukan kegiatan Seminar Nasional. Karena kegiatan inilah Mendiknas, Bambang Sudibyo mau meluangkan waktunya membuka Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh POMG SMP Labschool Jakarta pada 12 Mei 2007 di Shangrila Hotel Jakarta. Kegiatan POMG telah menjadi budaya sekolah yang kental dan didukung penuh oleh pimpinan sekolah. Hasilnya, POMG dapat mengumrohkan para guru ke tanah suci Mekah, Rekreasi guru dan keluarga, dan lain-lain yang sangat menunjang untuk kegiatan siswa dan kesejahteraan para guru. Namun demikian, kegiatan POMG tetap berjalan dalam koridor tidak ’mengobok-obok’ kurikulum sekolah yang telah dibuat oleh sekolah dan Badan Pengelola Sekolah (BPS) Yayasan Pembina Universitas Negeri Jakarta.

Keterlibatan orang tua dalam menunjang kegiatan sekolah, keteladan guru (mendidik dengan benar, memahami bakat, minat dan kebutuhan belajar anak, menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan serta memfasilitasi kebutuhan belajar anak), dan prestasi siswa yang membanggakan adalah tiga hal yang menyuburkan budaya sekolah. Kegiatan-kegiatan itu menjadi gengsi tersendiri dalam suatu sistem yang utuh (komprehensif) melalui indikator yang jelas, sehingga karakter atau watak siswa dapat terpotret secara optimal melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Kegiatan itu telah menjadi budaya dan berpengaruh dalam perkembangan siswa selama bersekolah di Labschool.

Karena budaya sekolah Labschool itulah yang tertanam di hati para siswa. Hampir bisa dikatakan sekolah kami bebas dari narkoba, rokok, minuman keras, tawuran antar pelajar, dan ’penyakit’ kenakalan pelajar lainnya. Siswa terbaik yang lulus, akan terukir namanya dalam batu prasasti. Alumni SMP labschool Jakarta tersebar ke sekolah-sekolah SMA favorit ’papan atas’ baik di tingkat propinsi maupun nasional dan menjadi ’leader’ di sekolahnya masing-masing.

III. PENUTUP

Lingkungan pendidikan yang harmonis dalam suasana kekeluargaan merupakan faktor yang mendukung terselenggaranya KBM yang baik. Sebab dengan lingkungan yang aman dan nyaman serta bersahabat siswa akan tenang dalam belajar. Salah satu usaha menciptakan keharmonisan tersebut adalah dengan budaya salam yang kental tanpa membedakan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) sehingga terbangun tata krama yang sistematik dan dapat membangun akhlaqul karimah yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW.

Budaya sekolah yang harus diciptakan selain hal-hal tersebut di atas adalah budaya unggul dan mampu bersaing di dunia global. Memiliki daya juang yang tinggi, tanpa kehilangan jati diri suatu bangsa, dan tak mengenal kata ’putus asa’. Sekolah harus dapat melestarikan budaya lokal dengan tetap mengikuti tren budaya global yang berkembang, misalnya bahasa daerah, gamelan, dan tarian tradisional perlu dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa. Tetapi tidak dapat kita pungkiri pula bahwa penguasaan bahasa asing, band, dan modern dance harus juga dipelajari sebagai budaya global yang disukai remaja saat ini.

Karena itu, nuansa religius di sekolah dengan pelaksanaan tadarus dan kebaktian sebelum pembelajaran yang dilaksanakan harus dijadikan aktivitas rutin. Membudayakan salam dan saling menegur dengan bahasa yang ramah harus menjadi fenomena yang biasa. Budaya keteladanan, kedisiplinan, dan kerja sama, baik orang tua, guru, dan siswa harus terus dikembangkan dan memiliki tanggung jawab untuk memajukan sekolah. Melalui kegiatan POMG atau komite sekolah, para orang tua harus berperan aktif membantu program-program yang dibuat oleh sekolah sehingga dapat membawa nama baik sekolah di masyarakat. Rendahnya mutu pendidikan kita saat ini disebabkan oleh lemahnya komitmen warga sekolah dalam mewujudkan budaya sekolah dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pendidikan sehingga akan berdampak pada rendahnya peran serta dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan baik secara moril maupun materiil.

Kredibilitas sekolah di mata masyarakat, akuntabilitas kinerja sekolah, dan sigma kepuasan orang tua siswa harus sudah terbentuk, sehingga membawa sekolah memiliki budaya sekolah yang tetap eksis. Guru, orang tua, dan siswa harus dapat bekerja sama menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis di tengah era derasnya globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Budaya sekolah terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan, seperti dua sisi mata uang logam yang tak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dalam bidang keilmuan, keolahragaan, dan kesenian membuat siswa dapat menyalurkan minat dan bakatnya masing-masing. Budaya sekolah dapat dimulai dari hal kecil seperti tempat duduk siswa yang berpusat pada guru harus diubah menjadi tempat duduk yang mendorong interaksi antar siswa. Hasil karya siswa yang berupa gambar, karangan, puisi, dan kerajinan harus dipasang di tempat terbuka di sekolah untuk mendorong kebanggaan berprestasi. Foto-foto ilmuwan juga perlu dipajang guna merangsang motivasi belajar siswa.

Sekarang ini, keunggulan suatu sekolah tidak ditentukan oleh besar kecilnya dana yang tersedia, tetapi lebih pada komitmen dan dedikasi para guru juga peran serta orang tua dalam memajukan sekolah dan dapat menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis dengan terus membangun kredibilitas dan akuntabilitas kinerja, sehingga melahirkan sigma kepuasan di kalangan masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

DAFTAR ACUAN

http://www.depdiknas.go.id/

http://www.kompas.co.id/

http://www.republika.co.id/

http://www.mediaindonesia.co.id/

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi. 3- cetakan.1. – Jakarta : Balai Pustaka 2001

Rachman, Arief. 2007. Makalah Seminar Nasional : Peran Orang tua dalam Mempersiapkan Remaja Menuju Masa depan Sukses. Jakarta, 12 Mei 2007

Tim SMP Labschool Jakarta, Panduan Kegiatan Ekskul SMP Labschool Jakarta, 2006.

Tim SMP Labschool Jakarta, Pedoman kegiatan Kesiswaan SMP Labschool Jakarta, 2007.

 Tim SMP Labschool Jakarta, Program Kerja SMP Labschool Jakarta, 2007.

 

PERNYATAAN INTEGRITAS AKADEMIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa makalah yang berjudul: “MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH YANG TETAP EKSIS (Sebuah Upaya untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan)” yang saya kirim untuk diseleksi dalam Konferensi Guru Indonesia 2007 adalah benar hasil karya saya sendiri. *Makalah tersebut:

belum pernah dipublikasikan sebelumnya dalam forum resmi atau penerbitan apapun.

Saya bertanggung jawab sepenuhnya dan akan menerima tindakan apapun yang diambil panitia penyelenggara Konferensi Guru Indonesia 2007 apabila di kemudian hari diketahui bahwa informasi yang saya tuliskan di atas tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Mengetahui, Jakarta, 5 Oktober 2007

Kepala SMP Labschool Jakarta Penulis Makalah

H. Ali Chudori, S.Pd, MM. Wijaya Kusumah, S.Pd


 

BIODATA PENULIS MAKALAH

Wijaya Kusumah, SPd. Lahir di Jakarta, 28 Oktober 1972. Sarjana Pendidikan Teknik Elektro (S1) IKIP Jakarta (1990-1994), Mendapatkan beasiswa dari Pasca Sarjana UNJ dan menjadi Mahasiswa Program Magister (S2) Teknologi Pendidikan UNJ (2007). Pengajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SMP Labschool Jakarta (1992-2007).

Suami dari Ibu Siti Rokayah (Asli Bandung). Ayah dari dua orang putri cantik yaitu : Intan Rahmadhani Kusumah (9th) dan Berliana Nurhaliza Kusumah (4th).

Semasa kuliah di IKIP Jakarta aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan, diantaranya : Ketua Umum HMJ Teknik Elektro FPTK UNJ, Ketua HMI Komisariat FPTK IKIP Jakarta, Ketua Musholla ”Al Biruni” FPTK IKIP Jakarta, dan Sekretaris Senat Mahasiswa FPTK IKIP Jakarta. Menjabat sebagai Kepala LP2TK IKIP Jakarta Bidang Software (1994-1996) dan Dosen POLMIKA di Jakarta (1996-1998).

Pada saat ini aktif di kegiatan Alumni Fakultas Teknik Elektro UNJ dengan menjabat sebagai Sekretaris Alumni Elektro FT-UNJ (2006-2009). Pembina OSIS/MPK dan Pembina Redaksi majalah ”Gema” SMP Labschool Jakarta.

Beberapa karya ilmiah yang ditulis untuk lomba karya tulis tingkat nasional adalah : Proses Pembelajaran Internet dalam Meningkatkan Imtak Siswa (2005), Pembelajaran Berbasis ICT di Kelas Akselerasi dalam meningkatkan Imtak-Iptek Secara Terpadu (2006), Peningkatan Imtak Siswa Berbasis Proses Pembelajaran Word melalui CTL dan Portofolio (2007), Peningkatan Kualitas Pembelajaran Internet di Kelas Akselerasi dengan metode CTL dan Penilaian Portofolio (2007).

Motto Hidup : Kejujuran Kunci Keberhasilan dan Kesuksesan.

Telp./Hp : 4755542 /08159155515 Fax. 4897289.

Rumah : Komplek AL Jatibening Indah B.144 Pondok Gede, Bekasi 17412

Kantor : SMP Labschool Jkt, Jl. Pemuda Komp.UNJ Rawamangun Jaktim

Email : wijayalabs@hotmail.com & wijayalabs@yahoo.com

Website : http://www. omjay.8m.com & wijayalabs.wordpress.com

 

 

Hello world!

Mei 4, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.